Langsung ke konten utama

Benarkah Menjadi Guru SD Itu Asyik?

 

Mahasiswa KKN mengajar siswa SD - dokumen Firda Fatimah

Sejenak, judul diatas seperti meragukan keasyikan menjadi seorang guru SD, ya. Eits, tunggu dulu, jangan salah, judul diatas hanya pertanyaan, dan untuk jawabannya cari sendiri, hehe.

Saya, sebagai seorang mahasiswa pendidikan semester akhir, tentu saja saya telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN ini dilaksanakan sebagai salah satu syarat wajib mahasiswa untuk bisa selanjutnya melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) sesuai jurusannya masing-masing.

Nah, tapi untuk tulisan kali ini, saya akan membahas sedikit pengalaman saya pada saat KKN di salah satu desa di Kabupaten Malang di awal tahun 2020 lalu. Desa ini tidak terlalu jauh dari hiruk pikuk kota, karena faktanya sinyal masih bisa masuk, meski kalau mati lampu sinyal suka hilang entah kemana (kalau kamu jangan gitu, ya), hehe.

Karena notabene saya adalah mahasiswa dari fakultas pendidikan, maka pada saat KKN saya sering ke sekolah, lebih tepatnya Sekolah Dasar (SD) yang berada dibawah naungan Kementerian Agama alias Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Karena saya hanya berstatus sebagai mahasiswa KKN di sekolah tersebut, maka disana saya hanya ditugaskan untuk mengisi kelas-kelas kosong yang kebetulan sang guru pengajar tidak sempat hadir serta  mengurus administrasi perpustakaan.

Nah, di saat memasuki kelas inilah sebuah tantangan mengajar dan menghadapi anak didik yang lucu-lucu dan cenderung masih polos itu dimulai. Beruntungnya, disini saya sebagai mahasiswa KKN hanya bertugas mengisi kelas, tidak harus menyiapkan RPP dan segala macam perangkat pembelajaran yang bikin mumet, Ups. hehe

Meski saya bukan mahasiswa dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengajar anak SD adalah sebuah tantangan yang saya sendiri sangat menyukai itu.

Pada saat saya memasuki kelas, anak-anak SD itu terlihat ceria, bahagia, namun ada pula yang cemberut. Tapi anak SD itu jujur, ketika ditanya mereka menjawab dengan kepolosannya yang dijawab dengan malu-malu tapi mau. Wkwk.

Menurut saya pribadi, mengajar siswa SD itu menyenangkan. Kenapa? Karena kemungkinan muncul rasa gugup berhadapan dengan siswa itu sangat sedikit terjadi. Siswa SD itu cenderung suka bermain, bernyanyi bersama, senang bergerak kesana kemari, dan keaktifan-keaktifan lainnya yang jika guru mampu mengatasi dan memanfaatkan momen-momen usia anak-anak tersebut sangatlah bisa diciptakan model pembelajaran yang menarik juga mengesankan dalam diri siswa.

Sebelum melaksanakan pembelajaran, setelah berdo’a bisa bernyanyi bersama dulu sebagai kegiatan apersepsi untuk menghadirkan jiwa anak bahwa dia sedang berada di sekolah dan akan mempelajari hal-hal baru. Kemudian dalam proses pembelajaran, dihadirkan pula cerita-cerita, permainan edukatif, dan memberikan kesempatan siswa mengekspresikan dirinya.

Anak SD itu suka sekali bercerita. Dia sangat senang ketika sang guru menanyai hal-hal apa yang dia sukai,  pengalaman apa yang paling mengesankan baginya, apa yang dia lakukan di rumah, dan cerita-cerita lainnya. Namun, jika mereka malu untuk berbicara, sebagai guru SD adalah sebuah tugas untuk menuntun mereka aktif. Karena, pada dasarnya anak SD itu ingin berbicara, namun masih ada rasa malu-malu yang jika sang guru bisa terus mendorong dan memotivasi, dia akan mau mencoba.

Menuntun siswa SD untuk berani berbicara - Dokumen Firda Fatimah

Pengalaman saya saat menyuruh bergantian beberapa anak SD untuk maju di depan teman-temannya di kelas untuk bercerita tentang cita-cita mereka dan alasannya, memang ada siswa yang begitu antusias ada juga yang malu-malu. Namun disinilah, siswa yang malu-malu tersebut harus kita tuntun. Nah, ternyata dari situ siswa yang malu-malu pun akhirnya mau berbicara walaupun hanya sedikit hingga kemudian nampak juga senyum dari wajahnya yang lugu dan imut. Nah, disinilah siswa merasa tidak ada perbedaan perilaku dari sang guru pada semua muridnya, tidak ada yang namanya “pilih kasih” itu hadir di pikiran siswa.

Saat saya dan teman-teman KKN sudah harus meninggalkan sekolah dan desa tersebut, kami membagikan sedikit jajanan untuk seluruh siswa di sekolah. Lucunya, katanya ada beberapa siswa yang tidak mau memakan jajan tersebut, alasannya karena jajan tersebut adalah kenangan, wkwk, lucu nggak, hehe. Bahkan sebelum kami pulang, kami seperti menjadi artis dalam satu hari, yaa para siswa menyodorkan kami kertas dan juga bulpoin, kalian tau untuk apa? Untuk tanda tangan, wkwk, kapan lagi dimintain tanda tangan fans, yakan..

Nah, asyik juga yaa mengajar siswa SD, dibalik kepolosan mereka ada potensi besar dalam diri mereka yang harus kita gali dan kita dukung. Semangat ya untuk semua guru SD. 


Komentar

  1. Luar biasa Mbak Fida, menjadi guru memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Saya sendiri juga perlu latihan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe betul Mba Nurul, menjadi guru itu luar biasa dan membahagiakan 😇
      Terima kasih, mba sudah singgah

      Hapus
  2. Pernah ngalamin kejadian kaya di KKN desa penari gak kka?

    Jendela Rahman

    BalasHapus
  3. Ikut menyimak mbak Firda☺️🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu yang Datang Lalu Pergi (baca: mant*n) 😆

Untukmu yang datang lalu pergi Untukmu yang memulai Lalu dengan mudah mengakhiri Apa kabar? Apa kau bahagia sekarang? Tanpa diriku tentunya Ah aku terlihat terlalu percaya diri Maaf maaf Aku hanya berdoa Semoga kau baik-baik saja Malam ini Bintang tertutup awan pekat Layaknya dirimu Pergi tanpa permisi dengan tepat Mengakhiri kisah yang sesungguhnya engkau dahulu yang memulai dengan kemauan cukup kuat Aku tak pernah mengerti Mengapa pergi menjadi hal yang mudah bagimu Sedangkan bagiku untuk pergi saja harus kupikir beberapa kali dahulu Menyodorkan kata maaf Permisi dengan sedikit kata manis Merendahkan sedikit rasa egois Seakan semua itu susah kau berikan Masih berdiri ditepian keangkuhan Seakan tak pernah merasa bersalah telah melakukan Jika maaf yang tulus saja tak terlontar dari mulutmu Bagaimana dengan terima kasih? Ah aku benar-benar tak mengerti Memang bukan maksudku menuduhmu tak menepati janji Yaa bagaimana adanya saja Malam kian tenggelam H...

Setelah Hari Itu

  Gambar oleh Dani Geza dari Pixabay Tak terasa Ini sudah beberapa minggu setelah hari itu Ketika semuanya mulai berubah tanpa ada rencana diantara kita Mungkin Kita tak pernah benar-benar serius menulis skenario tentang bagaimana kisah kita nanti Namun pernah terlintas bahwa akhir kisah kita akan bahagia Hingga kuberanikan diri untuk seluruhnya percaya bahwa kau adalah satu-satunya Hingga setelah hari itu Semuanya berubah Saling bertukar kabar yang terus kita ramu Akhirnya memilih untuk tak lagi menjamu Bukan karena tak lagi rindu Karna nyatanya semesta memilih untuk menyudahi kisah kita Yaa Aku tak pernah menyangka Akan berubah secepat dan sejauh ini Saat benang kebahagiaan bersamamu sudah kutenun lebih banyak Akhirnya harus kupaksa untuk kuurai semuanya Aku tak pernah tahu Apakah benang ini suatu saat akan kutenun kembali Karna nyatanya Kejadian ini membuatku banyak lebih mengerti Bahwa saat bersamamu adalah hal terbodoh dan terpintar yang pernah ada Sampai saat ini Setelah hari...