Langsung ke konten utama

Cerpen Cinta Remaja Islami TERBARU 2018

Bersama Kenangan
Oleh : Fatimah Firdaus

Sang surya semakin terasa menyengat mengiringi perjalananku menuju penjara suci di salah satu desa di Ponorogo. Liburan akhir sanah yang baru terlewat telah memberiku sebuah kenangan baru. Di dalam mobil, jari-jariku memencet tombol handphone, kukirim pesan singkat untuk seseorang yang kurasa telah merubah sebagian duniaku.
To : Zidna
“Sukses u/ studimu, aku yakin kau kelak akan jd org sukses insyaAllah, Don’t sad because me, you have Allah, Thanks for the experience,sampai jumpa 6 bln lgi, salamJ

Sejenak kuletakkan handphone di saku, tak beberapa lama ada pesan masuk.
From : Zidna
“Makasih untuk supportnya, We have AllahJ, ma’an najah buat studimu di ma’had, salam”

Aku tutup handphoneku, berusaha melupakan kenangan yang telah terjadi, kenangan yang sedikit banyak telah mengubah hati seorang santri remaja sepertiku, kenangan secuil cinta.
Semua canda tangis tawa yang pernah kita rasakan
Takkan  terlupakan meski kau jauh disana
~ ~              Kenangan abadi yang kita ukir bersama                     ~ ~
Tentang cerita di antara kita

Sampailah aku di tempat pencarian ilmuku. Aku turun dari mobil dengan koper besar di tangan dan kusalami tangan kedua orang tuaku.
“Mondok yang bener ya le, dimantepkan lagi niatnya, ayah ibu mung biso dungakno,” nasihat ibuku.
“Inggih pak, bu, restunipun mawon,” jawabku sambil mencium tangan ibu dan ayahku.
Kulangkah kaki menuju pondok dan terdengar suara penyambutan dari pengeras suara yang biasa menggema menyambut kedatangan santri.
اهلا و سهلا بقدومكم الى هذا المعهد الشريف،
بمعهد دار السلام كونتور، للتربية الإسلامية الحديثة

Kucoba mantapkan niat tholabul ilmi bersama kenangan yang masih menghiasi suasana hati.
                                                                        ----
Sekarang aku duduk di kelas 4-G KMI Gontor. Aku sangat bersyukur, karena aku berada di kelas yang lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya menduduki kelas 3-M. Usahaku selama satu tahun lalu tidak sia-sia, dari sholat malam, sholat hajat, belajar sampai jam dua belas malam bahkan hampir subuh pun kujalani waktu itu. Namun saat ini kumerasakan hal berbeda, setelah liburan akhir sanah dengan kenangannya, kumerasa semangat belajarku tak sesemangat dulu. Hingga akhirnya....
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kujalani kegiatan pondok dengan sedikit kegalauan hati. Dan seiring berjalannya waktu, tibalah ujian semester satu. Seperti biasa di hari-hari ujian, setiap santri diharuskan untuk selalu membawa buku kemana-kemana. Ustadz pengajar, wali fasl, al-akh akan ada dimana-mana menemani para santri belajar sebagai tempat santri bertanya pelajaran. Saat itu suasana terasa begitu damai dengan suara-suara ramai santri yang sedang mengulang materi yang telah diajarkan. Aku duduk termenung di tangga masjid menghadap Asrama Santri Baru bertuliskan “Ke Gontor Apa yang Kau Cari.” Pikiranku melayang teringat kenangan yang masih menghias pikiranku bersama buku tergenggam di tangan yang masih belum terbaca seluruhnya.
            “Woy sul, ente limadza, ngelamun mulu dari tadi ana liyat,” datang sahabatku, Mutvi membuyarkan lamunanku.
            “Eh ente, ana la ba’sa,” jawabku.
            “Beneran nih, ceritalah ke kawan baek mu ini Attar, kali aja ana bisa kasih solusi, hehe” selidiknya.
“Hehe, ana la ba’sa sul,” jawabku meyakinkannya.
Beneran nih, okelah kalo gitu,” ajaknya
“Na’am” jawabku.
Akhirnya, kujalani ujian tahriri dan syafahi serta ujian praktek dengan sedikit kemampuanku.
                                                                        ----
            Ujian semester satu pun berakhir, saatnya liburan pertengahan tahun selama sepuluh hari. Santri sedikit demi sedikit meninggalkan pondok dengan puluhan armada bus yang telah disiapkan.
Sampailah aku di rumah. Tak beberapa lama lalu kukirim pesan singkat untuk zidna. Kuceritakan bagaimana keadaanku di pondok setelah mengenal dirinya. Kuceritakan bahwa dirinya selalu terbayang-bayang dalam ingatanku, sehingga aku kurang fokus dalam menuntut ilmu. Tak kusangka, Zidna juga merasakan hal yang sama sepertiku, hanya saja dia tidak begitu termakan perasaan. Kemudian dia menasihatiku dengan kehalusan kata-katanya. Dia katakan padaku bahwa tak seharusnya aku seperti itu. Dia memberiku semangat selayaknya seorang sahabat.
Liburan pertengahan tahun pun berakhir, saatnya kumantapkan kembali niat tholabul ilmi. Awal masuk pondok adalah saatnya pembagian hasil ujian semester satu, hatiku berdebar-debar tak karuan menantikan hasil perjuanganku yang tak seberapa. Aku merasa bahwa nilaiku tak semakin baik bahkan semakin buruk. Dan ternyata benar, nilai yang kudapat tak cukup memuaskan. Aku meyadari beberapa bulan di kelas 4 KMI, aku kurang menfokuskan diri tholabul ilmi. Hatiku belum sepenuhnya berada di pondok.
            Di suasana keheningan malam, ditemani bulan yang malu menampakkan semua tubuhnya, aku beranjak menuju masjid, kugelar sajadah, sembahyang dua rokaat, lalu kuutarakan isi hati pada Sang Pengobat Hati dengan butir-butir air mata membasahi bulu mataku.
Ya Allah...
Hanya Engkau yang tahu bagaimana keadaan hati hamba
Hanya Engkau yang tahu apa yang selama ini hamba rasa
Kutitipkan salam rindu hamba untuk seorang yang selama ini mengusik hati dan pikiran hamba
Ya Allah...
Mantapkan dan luruskan niat hamba dalan menuntut ilmu di Ma’had ini
Kuatkanlah tekad hamba
Hamba yakin bahwa Engkau selalu memberi yang terbaik untuk hamba.

----
Sang surya mulai menampakkan senyumnya menggantikan dewi malam yang mulai lelah dengan jaga malamnya. Mutvi sahabatku seolah tahu apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
"Ente limadza sul? Kaefa nilai semester satu?”Tanyanya.
“Nilai ana qobih jiddan sul, Ente sendiri gmna?” jawabku.
"Ana alhamdulillah, Kenapa akhir-akhir ini Ente kelihatan beda setelah liburan akhir sanah dulu, dapet apa liburan waktu itu? Ceritalah ke ana,” selidik Mutvi sambil menepuk pundakku.
"Na'am na'am ana akan cerita,” jawabku.
“Sip, ana dengerin,” jawabnya semangat.
“Jadi gini, liburan akhir sanah dulu ana dibikin baper sama anak temen ibu ana, awalnya sih kita ketemu di Rumah sakit waktu njenguk saudara ana, terus ada dia, kenalan deh jadinya, gak nyangka jadi sama-sama suka, hhh,” ceritaku.
“Oh gitu, ah biasalah tar, gitu sih emang kalau remaja, terus ceritanya ente sekarang lagi galau gitu?”Tanya mutvi
“Hehe, mugkin gitu,” jawabku tersenyum malu
“Nah, sekarang coba deh dikit-dikit lupakan, berdo’a ke Allah untuk bisa ngelupain kenangan itu, ente sibukkan dengan kegiatan pondok, dengerin nasihat kyai bener-bener, jangan kebawa perasaan terus, kayak ana gini lo tar, hehe,” nasihat dia.
“Hehe, na’am syukron katsir vi, dia juga kasih nasehat ke ana semacam itu,” pujiku
“Nah tuh kan,” jawabnya.

                                                                        ----
Hari-hari pun berlalu, kujalani kegiatan-kegiatan pondok dengan lebih bersemangat, kukobarkan kembali semangat tholabul ilmi, kuingat kembali nasihat imam syafi’i.
Berlelah-lelahlah!
Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang!

Di kelas 4 ini aku diajarkan berorganisasi. Mulai dari organisasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sampai kepanitiaan dalam berbagai acara. Disini santri dididik untuk siap memimpin dan siap dipimpin, diajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan juga diajarkan menjadi pengikut yang patuh kepada pemimpin. Dengan mengikuti organisasi dan kepanitiaan ini, cepat atau lambat telah membantuku untuk melupakan kenangan yang telah terjadi liburan akhir sanah lalu.

Ujian Akhir Sanah pun tiba, kuikuti ujian syafahi dan ujian tahriri serta ujian praktek dengan baik. Kubertekad memperbaiki nilai semester satu yang mengecewakan. Belajar, berdo’a, sholat malam, sholat hajat menemani hari-hari ujianku.
Liburan akhir sanah pun tiba. Liburan yang mungkin akan menjadi liburan terakhirku di rumah dan merayakan lebaran bersama keluarga. Karena di kelas lima nanti aku akan menjadi pengurus bagi adik-adik kelas, dan menjaga pondok. Pada malam menjelang liburan, dalam pidato singkat Kyai pimpinan Pondok Modern Gontor, beliau berpesan agar seluruh santri mampu memanfaatkan masa liburan dengan baik dan tidak berfoya-foya. Begitu juga dengan identitas Pondok Modern (PM) yang ada dalam diri setiap santri. Semua harus menjaganya dengan baik, jangan sampai tertular dengan budaya buruk yang ada di luar pondok.
“Ingat, di jidat kalian ada tulisan ‘PM’, kapan dan dimanapun kalian berada, identitas itu harus tetap kalian jaga!,” Ujar pak Kyai sebelum akhirnya membacakan laporan transportasi masing-masing konsulat.
---
Sampailah aku di rumah dan kusalami keluargaku. Dan malam hari pun tiba, kukirim pesan singkat yang mungkin akan menjadi pesan terakhirku untuk Zidna.
Assalamu’alaikum, gimana kabar zid?
Wa’alaikumsalam, loh udah perpulangan? Alhamdulillah kabar baek. Km  gak mampir ke rumah?
hehe iya, laen waktu ya
Iya gpp, gimna kabar mu skrg tar?
Alhamdulillah, sepertinya udah banyak perubahan nih, ada yg mau ku omongin ke km..
Oh iya mau ngomong pa?
Gini zid, aku sadar apa yg udh kita lakuin tempo dulu itu salah, maafin aku ya gk memperlihatkan keanakpondokanku, skrg aku putusin gak akan kasih perhatian yg berlebihan lagi buat km. Maaf ya..
Nah, itu attar yg mau aku omongin jg ke km, udh keduluan km, ya deh iya gpp kok tar..
Oke zid, selamat ya buat pencapaian pretasinya, cari terus ilmunya, fii amanilah! J
Oke tar, thanks, ma’an najah ya.. J
Thanks, asslamu’alaikum zidna
Wa’alaikumsalam..

Sejak saat itu, kumulai mantapkan diri dan yakin Allah pasti akan memberi yang terbaik untuk kita berdua.
Hari-hari liburan pun berjalan yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Kusibukkan diriku dengan tilawah al-qur’an dan membantu kedua orang tua serta sesekali bermain dengan teman-teman di rumah. Dan pada hari ini surat yang kunanti-nanti telah datang, surat pemberitahuan dari pondok. Surat yang berisi hasil Ujian Akhir Tahun dan pemberitahuan kenaikan kelas dari Direktur KMI. Aku sangat bersyukur, aku naik kelas. Ini menandakan bahwa aku akan menjadi kelas 5 KMI. Di kelas lima inilah, pendidikan Gontor yang sebenarnya akan kurasakan.  Menjadi pengurus bagi adik-adik kelas, menjadi pemimpin yang baik, menjadi santri yang bertanggung jawab. Dan yang paling spektakuler adalah pagelaran pentas seni Drama Arena 591 (DA 591) kelas 5 tahun 2016. I’am Coming!!!
                                                                ---Selesai---



Glosarium Cerpen “Bersama Kenangan”
Akhir sanah                 : akhir tahun
Ma’an najah                : semoga sukses
Mung bisa dungakno  : hanya bisa mendo’akan
Enngeh                        : Iya
Mawon                        : saja
Al-akh                         : sapaan santri kelas 6 KMI untuk adik-adik kelas
Wali Fasel                   : wali kelas
Sul                               : sapaan akrab santri Gontor bagi sesama asal daerah (Konsul)
Ente                             : kamu
Ana                             : saya
Limadza                      : kenapa
La ba’sa                       : tidak apa-apa
Na’am                          : iya
Tholabul ilmi              : menuntut ilmu
Kaefa                          : bagaimana
Qobih jiddan               : jelek sekali
Syukron katsir             : terima kasih banyak
Ujian syafahi               : ujian lisan
Ujian tahriri                : ujian tulis
Fii amanillah               : Selamat tinggal/ dalam lindungan Allah

NB : Percakapan saat di pondok sebenarnya menggunakan bahasa arab semua, namun disini pengarang menyesuaikan dengan para pembaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu yang Datang Lalu Pergi (baca: mant*n) 😆

Untukmu yang datang lalu pergi Untukmu yang memulai Lalu dengan mudah mengakhiri Apa kabar? Apa kau bahagia sekarang? Tanpa diriku tentunya Ah aku terlihat terlalu percaya diri Maaf maaf Aku hanya berdoa Semoga kau baik-baik saja Malam ini Bintang tertutup awan pekat Layaknya dirimu Pergi tanpa permisi dengan tepat Mengakhiri kisah yang sesungguhnya engkau dahulu yang memulai dengan kemauan cukup kuat Aku tak pernah mengerti Mengapa pergi menjadi hal yang mudah bagimu Sedangkan bagiku untuk pergi saja harus kupikir beberapa kali dahulu Menyodorkan kata maaf Permisi dengan sedikit kata manis Merendahkan sedikit rasa egois Seakan semua itu susah kau berikan Masih berdiri ditepian keangkuhan Seakan tak pernah merasa bersalah telah melakukan Jika maaf yang tulus saja tak terlontar dari mulutmu Bagaimana dengan terima kasih? Ah aku benar-benar tak mengerti Memang bukan maksudku menuduhmu tak menepati janji Yaa bagaimana adanya saja Malam kian tenggelam H...

Setelah Hari Itu

  Gambar oleh Dani Geza dari Pixabay Tak terasa Ini sudah beberapa minggu setelah hari itu Ketika semuanya mulai berubah tanpa ada rencana diantara kita Mungkin Kita tak pernah benar-benar serius menulis skenario tentang bagaimana kisah kita nanti Namun pernah terlintas bahwa akhir kisah kita akan bahagia Hingga kuberanikan diri untuk seluruhnya percaya bahwa kau adalah satu-satunya Hingga setelah hari itu Semuanya berubah Saling bertukar kabar yang terus kita ramu Akhirnya memilih untuk tak lagi menjamu Bukan karena tak lagi rindu Karna nyatanya semesta memilih untuk menyudahi kisah kita Yaa Aku tak pernah menyangka Akan berubah secepat dan sejauh ini Saat benang kebahagiaan bersamamu sudah kutenun lebih banyak Akhirnya harus kupaksa untuk kuurai semuanya Aku tak pernah tahu Apakah benang ini suatu saat akan kutenun kembali Karna nyatanya Kejadian ini membuatku banyak lebih mengerti Bahwa saat bersamamu adalah hal terbodoh dan terpintar yang pernah ada Sampai saat ini Setelah hari...