Bersama Kenangan
Oleh : Fatimah
Firdaus
Sang surya semakin
terasa menyengat mengiringi perjalananku menuju penjara suci di salah satu desa
di Ponorogo. Liburan akhir sanah yang
baru terlewat telah memberiku sebuah kenangan baru. Di dalam mobil, jari-jariku
memencet tombol handphone, kukirim
pesan singkat untuk seseorang yang kurasa telah merubah sebagian duniaku.
To : Zidna
“Sukses u/ studimu, aku yakin kau kelak akan jd org
sukses insyaAllah, Don’t sad because me, you have Allah, Thanks for the experience,sampai
jumpa 6 bln lgi, salamJ”
Sejenak kuletakkan handphone di saku, tak beberapa lama ada pesan masuk.
From : Zidna
“Makasih
untuk supportnya, We have AllahJ, ma’an najah
buat studimu di ma’had, salam”
Aku tutup handphoneku, berusaha melupakan kenangan yang telah terjadi,
kenangan yang sedikit banyak telah mengubah hati seorang santri remaja
sepertiku, kenangan secuil cinta.
Semua canda tangis tawa yang
pernah kita rasakan
Takkan terlupakan meski kau jauh disana
~ ~ Kenangan abadi yang kita ukir
bersama ~ ~
Tentang cerita di antara
kita
Sampailah aku di tempat
pencarian ilmuku. Aku turun dari mobil dengan koper besar di tangan dan
kusalami tangan kedua orang tuaku.
“Mondok yang bener ya le, dimantepkan lagi niatnya, ayah ibu mung biso dungakno,” nasihat ibuku.
“Inggih pak, bu, restunipun mawon,” jawabku sambil mencium tangan ibu
dan ayahku.
Kulangkah kaki menuju
pondok dan terdengar suara penyambutan dari pengeras suara yang biasa menggema
menyambut kedatangan santri.
“اهلا و سهلا بقدومكم الى هذا المعهد
الشريف،
بمعهد دار السلام كونتور، للتربية الإسلامية
الحديثة”
Kucoba mantapkan niat tholabul ilmi bersama kenangan yang
masih menghiasi suasana hati.
----
Sekarang aku duduk di
kelas 4-G KMI Gontor. Aku sangat bersyukur,
karena aku berada di kelas yang lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya
menduduki kelas 3-M. Usahaku selama satu tahun lalu tidak
sia-sia, dari sholat malam, sholat hajat, belajar sampai jam dua belas malam
bahkan hampir subuh pun kujalani waktu itu. Namun saat ini kumerasakan hal
berbeda, setelah liburan akhir sanah dengan kenangannya, kumerasa semangat
belajarku tak sesemangat dulu. Hingga akhirnya....
Hari berganti minggu,
minggu berganti bulan, kujalani kegiatan pondok dengan sedikit kegalauan hati.
Dan seiring berjalannya waktu, tibalah ujian semester satu. Seperti biasa di
hari-hari ujian, setiap santri diharuskan untuk selalu membawa buku
kemana-kemana. Ustadz pengajar, wali fasl, al-akh akan ada dimana-mana menemani para
santri belajar sebagai tempat santri bertanya pelajaran. Saat itu suasana
terasa begitu damai dengan suara-suara ramai santri yang sedang mengulang
materi yang telah diajarkan. Aku duduk termenung di tangga masjid menghadap Asrama Santri
Baru bertuliskan “Ke Gontor Apa yang Kau
Cari.” Pikiranku melayang teringat kenangan yang masih menghias pikiranku
bersama buku tergenggam di tangan yang masih belum terbaca seluruhnya.
“Woy
sul, ente
limadza, ngelamun mulu
dari tadi ana liyat,” datang sahabatku, Mutvi membuyarkan lamunanku.
“Eh ente,
ana la ba’sa,” jawabku.
“Beneran
nih, ceritalah ke kawan baek mu ini Attar, kali aja ana bisa kasih solusi,
hehe” selidiknya.
“Hehe, ana la ba’sa sul,” jawabku
meyakinkannya.
“Beneran nih, okelah kalo gitu,” ajaknya
“Na’am” jawabku.
Akhirnya, kujalani ujian tahriri dan syafahi serta ujian praktek
dengan sedikit kemampuanku.
----
Ujian semester satu pun berakhir, saatnya liburan pertengahan tahun selama
sepuluh hari. Santri sedikit demi sedikit meninggalkan pondok dengan puluhan
armada bus yang telah disiapkan.
Sampailah aku di rumah.
Tak beberapa lama lalu kukirim pesan singkat untuk zidna. Kuceritakan bagaimana
keadaanku di pondok setelah mengenal dirinya. Kuceritakan bahwa dirinya selalu
terbayang-bayang dalam ingatanku, sehingga aku kurang fokus dalam menuntut
ilmu. Tak kusangka, Zidna juga merasakan hal yang sama sepertiku, hanya saja
dia tidak begitu termakan perasaan. Kemudian dia menasihatiku dengan kehalusan
kata-katanya. Dia katakan padaku bahwa tak seharusnya aku seperti itu. Dia
memberiku semangat selayaknya seorang sahabat.
Liburan pertengahan
tahun pun berakhir, saatnya kumantapkan kembali niat tholabul ilmi. Awal masuk pondok adalah saatnya
pembagian hasil ujian semester satu, hatiku berdebar-debar tak karuan
menantikan hasil perjuanganku yang tak seberapa. Aku merasa bahwa nilaiku tak semakin
baik bahkan semakin buruk. Dan ternyata benar, nilai yang kudapat tak cukup
memuaskan. Aku meyadari beberapa bulan di kelas 4 KMI, aku kurang menfokuskan
diri tholabul ilmi. Hatiku belum
sepenuhnya berada di pondok.
Di
suasana keheningan malam, ditemani bulan yang malu menampakkan semua tubuhnya,
aku beranjak menuju masjid, kugelar sajadah, sembahyang dua rokaat, lalu
kuutarakan isi hati pada Sang Pengobat Hati dengan butir-butir air mata
membasahi bulu mataku.
Ya Allah...
Hanya Engkau yang tahu bagaimana
keadaan hati hamba
Hanya Engkau yang tahu apa yang
selama ini hamba rasa
Kutitipkan salam rindu hamba untuk
seorang yang selama ini mengusik hati dan pikiran hamba
Ya Allah...
Mantapkan dan luruskan niat hamba
dalan menuntut ilmu di Ma’had ini
Kuatkanlah tekad hamba
Hamba yakin bahwa Engkau selalu
memberi yang terbaik untuk hamba.
----
Sang surya mulai
menampakkan senyumnya menggantikan dewi malam yang mulai lelah dengan jaga
malamnya. Mutvi sahabatku seolah tahu apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
"Ente
limadza sul? Kaefa
nilai semester satu?”Tanyanya.
“Nilai ana qobih jiddan sul, Ente sendiri gmna?” jawabku.
"Ana alhamdulillah, Kenapa akhir-akhir ini Ente kelihatan beda
setelah liburan akhir sanah dulu, dapet
apa liburan waktu itu? Ceritalah
ke ana,” selidik Mutvi sambil
menepuk pundakku.
"Na'am na'am ana akan cerita,” jawabku.
“Sip, ana dengerin,” jawabnya semangat.
“Jadi gini, liburan akhir sanah dulu ana
dibikin baper sama anak temen ibu ana, awalnya sih kita ketemu di Rumah sakit
waktu njenguk saudara ana, terus ada dia, kenalan deh
jadinya, gak nyangka jadi sama-sama suka, hhh,” ceritaku.
“Oh gitu, ah biasalah tar, gitu sih
emang kalau remaja, terus ceritanya ente sekarang lagi galau gitu?”Tanya mutvi
“Hehe, mugkin gitu,” jawabku tersenyum
malu
“Nah, sekarang coba deh
dikit-dikit lupakan, berdo’a ke Allah untuk bisa ngelupain kenangan itu, ente sibukkan dengan kegiatan pondok,
dengerin nasihat kyai bener-bener, jangan kebawa perasaan terus, kayak ana gini
lo tar, hehe,” nasihat dia.
“Hehe, na’am syukron katsir vi, dia juga kasih nasehat ke ana semacam itu,” pujiku
“Nah tuh kan,” jawabnya.
----
Hari-hari pun berlalu,
kujalani kegiatan-kegiatan pondok dengan lebih bersemangat, kukobarkan kembali
semangat tholabul ilmi, kuingat
kembali nasihat imam syafi’i.
Berlelah-lelahlah!
Manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang!
Di kelas 4 ini aku diajarkan
berorganisasi. Mulai dari organisasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sampai
kepanitiaan dalam berbagai acara. Disini santri dididik untuk siap memimpin dan
siap dipimpin, diajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan juga diajarkan
menjadi pengikut yang patuh kepada pemimpin. Dengan mengikuti organisasi dan
kepanitiaan ini, cepat atau lambat telah membantuku untuk melupakan kenangan
yang telah terjadi liburan akhir sanah
lalu.
Ujian Akhir Sanah pun tiba, kuikuti ujian syafahi dan ujian tahriri serta ujian praktek dengan baik. Kubertekad memperbaiki
nilai semester satu yang mengecewakan. Belajar, berdo’a, sholat malam, sholat
hajat menemani hari-hari ujianku.
Liburan akhir sanah pun tiba. Liburan yang
mungkin akan menjadi liburan terakhirku di rumah dan
merayakan lebaran bersama keluarga. Karena di kelas lima nanti aku akan menjadi
pengurus bagi adik-adik kelas, dan menjaga pondok. Pada malam menjelang
liburan, dalam pidato singkat Kyai pimpinan Pondok Modern Gontor, beliau
berpesan agar seluruh santri mampu memanfaatkan masa liburan dengan baik dan
tidak berfoya-foya. Begitu juga dengan identitas Pondok Modern (PM) yang ada
dalam diri setiap santri. Semua harus menjaganya dengan baik, jangan sampai
tertular dengan budaya buruk yang ada di luar pondok.
“Ingat, di jidat kalian
ada tulisan ‘PM’, kapan dan dimanapun kalian berada, identitas itu harus tetap kalian jaga!,” Ujar pak Kyai
sebelum akhirnya membacakan laporan transportasi masing-masing konsulat.
---
Sampailah aku di rumah
dan kusalami keluargaku. Dan malam hari pun tiba, kukirim pesan singkat yang
mungkin akan menjadi pesan terakhirku untuk Zidna.
|
Assalamu’alaikum, gimana
kabar zid?
|
|
Wa’alaikumsalam,
loh udah perpulangan? Alhamdulillah kabar baek. Km gak mampir ke rumah?
|
|
hehe
iya, laen waktu ya
|
|
Iya
gpp, gimna kabar mu skrg tar?
|
|
Alhamdulillah,
sepertinya udah banyak perubahan nih, ada yg mau ku omongin ke km..
|
|
Oh iya
mau ngomong pa?
|
|
Gini
zid, aku sadar apa yg udh kita lakuin tempo dulu itu salah, maafin aku ya gk
memperlihatkan keanakpondokanku, skrg aku putusin gak akan kasih perhatian yg
berlebihan lagi buat km. Maaf ya..
|
|
Nah,
itu attar yg mau aku omongin jg ke km, udh keduluan km, ya deh iya gpp kok
tar..
|
|
Oke
zid, selamat ya buat pencapaian pretasinya, cari terus ilmunya, fii amanilah!
J
|
|
Oke
tar, thanks, ma’an najah ya.. J
|
|
Thanks,
asslamu’alaikum zidna
|
|
Wa’alaikumsalam..
|
Sejak saat itu, kumulai
mantapkan diri dan yakin Allah pasti akan memberi yang terbaik untuk kita
berdua.
Hari-hari liburan pun
berjalan yang
bertepatan dengan Bulan
Ramadhan. Kusibukkan diriku dengan tilawah al-qur’an dan membantu kedua orang
tua serta sesekali bermain dengan teman-teman di rumah. Dan pada hari ini surat
yang kunanti-nanti telah datang, surat pemberitahuan dari pondok. Surat yang
berisi hasil Ujian Akhir Tahun dan pemberitahuan kenaikan kelas dari Direktur
KMI. Aku sangat bersyukur, aku naik kelas. Ini menandakan bahwa aku akan
menjadi kelas 5 KMI. Di kelas lima inilah, pendidikan Gontor yang sebenarnya
akan kurasakan. Menjadi pengurus bagi
adik-adik kelas, menjadi pemimpin yang baik, menjadi santri yang bertanggung
jawab. Dan yang paling spektakuler adalah pagelaran pentas seni Drama Arena 591
(DA 591) kelas 5 tahun 2016. I’am Coming!!!
---Selesai---
Glosarium
Cerpen “Bersama Kenangan”
Akhir
sanah : akhir tahun
Ma’an
najah : semoga sukses
Mung
bisa dungakno : hanya bisa mendo’akan
Enngeh : Iya
Mawon
: saja
Al-akh
: sapaan santri
kelas 6 KMI untuk adik-adik kelas
Wali
Fasel : wali kelas
Sul : sapaan akrab
santri Gontor bagi sesama asal daerah (Konsul)
Ente : kamu
Ana
: saya
Limadza
: kenapa
La
ba’sa : tidak
apa-apa
Na’am
: iya
Tholabul
ilmi : menuntut ilmu
Kaefa
: bagaimana
Qobih
jiddan : jelek sekali
Syukron
katsir : terima kasih banyak
Ujian
syafahi : ujian lisan
Ujian
tahriri : ujian tulis
Fii
amanillah : Selamat
tinggal/ dalam lindungan Allah
NB : Percakapan saat di pondok sebenarnya
menggunakan bahasa arab semua, namun disini
pengarang menyesuaikan dengan para pembaca.
Komentar
Posting Komentar